‪Aktivis Kota Medan Napak Tilas Gerakan Pro Demokrasi 27 Juli 1996‬

‪Aktivis Kota Medan Napak Tilas Gerakan Pro Demokrasi 27 Juli 1996‬Reviewed by Redaksion.This Is Article About‪Aktivis Kota Medan Napak Tilas Gerakan Pro Demokrasi 27 Juli 1996‬  Perlu literasi dari pelaku sejarah untuk menyatukan cerita terputus sepanjang periode 1996-1998.‬     Suaraperistiwa.com,Medan – Beberapa mantan aktivis di Kota Medan berkumpul dan berdiskusi pengalaman mengingat kembali rentetan peristiwa chaos diakhir masa Orde Baru, dalam rangka Refleksi Peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli di Bengawan Coffee Jl. Darusalam, Medan, Sumatera Utara pada hari Senin […]

 

Perlu literasi dari pelaku sejarah untuk menyatukan cerita terputus sepanjang periode 1996-1998.‬

 

 

Suaraperistiwa.com,Medan – Beberapa mantan aktivis di Kota Medan berkumpul dan berdiskusi pengalaman mengingat kembali rentetan peristiwa chaos diakhir masa Orde Baru, dalam rangka Refleksi Peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli di Bengawan Coffee Jl. Darusalam, Medan, Sumatera Utara pada hari Senin (27/7/2020).

Mantan aktivis 98 yang kini Wakil Ketua Bidang Komunikasi Politik DPD PDI Perjuangan Sumut, Aswan Jaya menginisiasi diskusi tersebut.

 

Menurut Aswan, diskusi dimaksudkan untuk napak tilas gerakan pro demokrasi yang ada di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan dengan segala dinamikanya. Mengingat pada masa itu teknologi informasi belum secanggih saat ini, maka banyak catatan sejarah yang hilang dan terputus.

 

“Untuk itu kita kembali mengumpulkan para pelaku sejarahnya agar bisa menyatukan kembali puzzle, cerita yang banyak terputus, terutama sepanjang periode 1996-1998,” ujar Aswan, Senin (27/7/2020).‬

Sementara menurut aktivis yang sempat menjadi komisioner KPUD Sumut, Turunan Gulo, sesungguhnya gerakan demokrasi di Kota Medan memiliki semangat gerakan cukup besar dan menentukan gerakan massa skala nasional.

“Ternyata api gerakan massa di Medan itu sangat besar dan mempengaruhi gerakan secara nasional, tapi karena catatan sejarah tidak terdokumentasi, maka api gerakan itu jadi terlihat kecil,” jelas Turunan.

 

Dalam diskusi tersebut akhirnya tercetus keinginan menuliskan buku sejarah tentang gerakan rakyat di Kota Medan. Hal itu, lanjut Aswan, dimaksudkan melengkapi literasi untuk generasi aktivis masa kini terhadap catatan sejarah masa lalu agar tidak hilang dimakan zaman.

 

Apalagi para pelaku sejarahnya itu sendiri semakin menua, bahkan beberapa di antaranya sudah terlebih dahulu meninggal dunia.

“Intinya tadi muncul ide untuk menulis buku sejarah yang bersumber dari pelaku sejarah langsung dan beberapa catatan serta dokumentasi yang masih tertinggal,” kata Aswan.**

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below