Dr. Taufiq Abdul Rahim : Hengkangnya KIA Ladong, DPRA Harus Panggil PT PEMA

Dr. Taufiq Abdul Rahim : Hengkangnya KIA Ladong, DPRA Harus Panggil PT PEMAReviewed by Redaksion.This Is Article AboutDr. Taufiq Abdul Rahim : Hengkangnya KIA Ladong, DPRA Harus Panggil PT PEMASuaraperistiwa.com,Banda Aceh – Beberapa hari terakhir publik di Aceh dihebohkan dengan Keputusan pada 15 Mei lalu terkait hengkangnya PT. Trans Continent dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar. Selasa 19 Mei 2020.   Ismail Rasyid selaku direktur hengkang dari KIA Ladong, hal Ini sangat menyentak dan menjadi perhatian masyarakat dan publik Aceh.   Dr. […]

Suaraperistiwa.com,Banda Aceh – Beberapa hari terakhir publik di Aceh dihebohkan dengan Keputusan pada 15 Mei lalu terkait hengkangnya PT. Trans Continent dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar. Selasa 19 Mei 2020.

 

Ismail Rasyid selaku direktur hengkang dari KIA Ladong, hal Ini sangat menyentak dan menjadi perhatian masyarakat dan publik Aceh.

 

Dr. Taufiq Abdul Rahim, SE., M.Si mengatakan, Keputusan yang tidak main-main dan dipandang sebelah mata dengan diangkutnya peralatan kerja serta seluruh alat beratnya pada 17 Mei 2020.

 

“ini menunjukkan bahwa kekecewaan dari PT. Trans Continent terhadap Pemerintah Aceh, yang dipercayakan kepada PT. PEMA (Pembangunan Aceh) untuk menjadi penanggung jawab terhadap percepatan mendorong pembangunan kawasan industri di Aceh, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) lainnya,”katanya.

 

“Hal ini sangat mengecewakan dan sangat miris, tidak bertanggung jawab. Dengan kata lain, suatu pengkhianatan terhadap rakyat Aceh.

 

Seluruh gaji dan operasional PT. PEMA dianggarkan dalam anggaran belanja publik atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

 

Lanjutnya Dr. Taufiq Abdul Rahim, “Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Komisi III harus dan mesti memanggil serta meminta pertanggungjawaban Pemerintah Aceh, melalui PT. PEMA.

 

“Pengkhianatan ini harus dijelaskan secara rinci dan transparan kepada DPRA, serta harus diketahui masyarakat dan publik Aceh. Juga harus dijelaskan ada apa sesungguhnya dengan peristiwa ini, atau ada pihak maupun “mafia” yang ikut bermain didalamnya,”tegasnya.

 

Terhadap hengkangnya PT. Trans Continent yang juga memiliki reputasi dan bisnis internasional, ini sangat mempermalukan rakyat Aceh.

 

Sebagai salah satu perusahaan dan bisnis transnational (internasional), ini memiliki jejaring yang luas dan tidak luput dari perhatian pasar internasional, serta bursa saham internasional. Ini sangat memalukan dan mencoreng wajah Aceh menjadi sangat negatif dimata internasional.

 

“Bahkan, berdasarkan keterangan dari Ismail Rasyid mereka rugi setiap bulannya Rp 600 juta, selama sudah berjalan 9 bulan, ini buka jumlah nominal yang kecil, harus dipertanggung jawabkan secara perhitungan bisnis dan juga hukum.

 

“Oleh karena itu, kewajiban serta keharusan DPRA untuk memanggil PT. PEMA untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi, jangan-jangan ada orang atau pihak dan kelompok yang bermain di dalamnya yang ingin memanfaatkan program industrialisasi yang biasanya dapat memberikan keuntungan materi dan uang dalam jangka pendek, dibandingkan sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan perhotelan, juga yang lainnya.

 

“DPRA harus segera panggil PT PEMA, agar tidak main-main ke depannya. Jika ingin membangun Aceh, jangan abaikan aturan, ketentuan, dan risiko ekonomi dan politik Aceh. Konon pula membuat malu Aceh dimata internasional ditengah wabah atau pandemi covid-19,”tutup Dr. Taufiq Abdul Rahim.[HRi]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below